This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 13 Maret 2015

Microsoft Luncurkan Aplikasi Office 2016 for Mac Preview Gratis

Microsoft mempunyai hadiah yang bisa digunakan oleh para pengguna komputer Mac. Hadiah yang dimaksud adalah aplikasi Office 2016 for Mac Preview yang bisa diunduh secara gratis. Versi preview ini pun memberikan sekelumit bocoran mengenai fitur yang ada pada aplikasi Office terbaru itu.
Aplikasi Office 2016 Preview untuk Mac ini pun hadir dengan beberapa pembaharuan. Baik itu pembaharuan untuk aplikasi Word, Excel, PowerPoint, OneNote serta Outlook. Perubahan pertama yang bisa diketahui adalah pada penampilannya. Pada aplikasi ini akan terdapat beberapa perubahan yang membuat aplikasi ini terlihat lebih modern. Tak lupa, Microsoft juga membuat agar aplikasi ini mendukung Retina Display.
office mac
Kalau ingin mengunduh aplikasi ini, file yang harus diunduh mempunyai ukuran 2,5GB. Selanjutnya, setelah proses instalasi, aplikasi ini membutuhkan ruang di HDD sebanyak 6GB. Dan tentu saja, karena ini adalah aplikasi preview, maka di dalamnya juga akan terdapat beberapa bug yang mungkin akan cukup mengganggu.
Peluncuran aplikasi preview ini pun ditujukan agar Microsoft bisa memperoleh masukan dari para konsumennya. Terlebih aplikasi preview tersebut bisa digunakan secara cuma-cuma. Aplikasi ini sayangnya hanya bisa digunakan untuk platform Mac OS X Yosemit (10.10). Selain itu, aplikasi ini juga bisa diinstal secara berbarengan dengan aplikasi Office 2011.



Kamis, 12 Maret 2015

Kisah Sukses Bob Sadino, Memilih Miskin Sebelum Kaya

Intrepreneur sukses yang satu ini menjalani jalan hidup yang panjang dan berliku sebelum meraih sukses. Dia sempat menjadi supir taksi hingga kuli bangunan yang hanya berpenghasilan Rp100.
Penampilannya eksentrik. Bercelana pendek jins, kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, dan kerap menyelipkan cangklong di mulutnya. Ya, itulah sosok pengusaha ternama Bob Sadino, seorang entrepreneur sukses yang merintis usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Siapa sangka, pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket) ini pernah menjadi sopir taksi dan kuli bangunan dengan upah harian Rp100.
Celana pendek memang menjadi “pakaian dinas” Om Bob –begitu dia biasa disapa– dalam setiap aktivitasnya. Pria kelahiran Lampung, 9 Maret 1933, yang mempunyai nama asli Bambang Mustari Sadino, hampir tidak pernah melewatkan penampilan ini. Baik ketika santai, mengisi seminar entrepreneur, maupun bertemu pejabat pemerintah seperti presiden. Aneh, namun itulah Bob Sadino.
“Keanehan” juga terlihat dari perjalanan hidupnya. Kemapanan yang diterimanya pernah dianggap sebagai hal yang membosankan yang harus ditinggalkan. Anak bungsu dari keluarga berkecukupan ini mungkin tidak akan menjadi seorang entrepreneur yang menjadi rujukan semua orang seperti sekarang jika dulu tidak memilih untuk menjadi “orang miskin”.
Sewaktu orangtuanya meninggal, Bob yang kala itu berusia 19 tahun mewarisi seluruh hartake kayaan keluarganya karena semua saudara kandungnya kala itu sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih sembilan tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam, Belanda, juga di Hamburg, Jerman. Di Eropa ini dia bertemu Soelami Soejoed yang kemudian menjadi istrinya.
Sebelumnya dia sempat bekerja di Unilever Indonesia. Namun, hidup dengan tanpa tantangan baginya merupakan hal yang membosankan. Ketika semua sudah pasti didapat dan sumbernya ada menjadikannya tidak lagi menarik. “Dengan besaran gaji waktu itu kerja di Eropa, ya enaklah kerja di sana. Siang kerja, malamnya pesta dan dansa. Begitu-begitu saja, terus menikmati hidup,” tulis Bob Sadino dalam bukunya Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila.
Pada 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Kala itu dia membawa serta dua mobil Mercedes miliknya. Satu mobil dijual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Satu mobil Mercedes yang tersisa dijadikan “senjata” pertama oleh Bob yang memilih menjalani profesi sebagai sopir taksi gelap. Tetapi, kecelakaan membuatnya tidak berdaya. Mobilnya hancur tanpa bisa diperbaiki.
Setelah itu Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya Rp100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Bob merasakan bagaimana pahitnya menghadapi hidup tanpa memiliki uang. Untuk membeli beras saja dia kesulitan. Karena itu, dia memilih untuk tidak merokok. Jika dia membeli rokok, besok keluarganya tidak akan mampu membeli beras.
“Kalau kamu masih merokok, malam ini besok kita tidak bisa membeli beras,” ucap istrinya memperingati.
Kondisi tersebut ternyata diketahui teman-temannya di Eropa. Mereka prihatin. Bagaimana Bob yang dulu hidup mapan dalam menikmati hidup harus terpuruk dalam kemiskinan. Keprihatinan juga datang dari saudara-saudaranya. Mereka menawarkan berbagai bantuan agar Bob bisa keluar dari keadaan tersebut. Namun, Bob menolaknya.
Dia sempat depresi, tetapi bukan berarti harus menyerah. Baginya, kondisi tersebut adalah tantangan yang harus dihadapi. Menyerah berarti sebuah kegagalan. “Mungkin waktu itu saya anggap tantangan. Ternyata ketika saya tidak punya uang dan saya punya keluarga, saya bisa merasakan kekuatan sebagai orang miskin. Itu tantangan, powerfull. Seperti magma yang sedang bergejolak di dalam gunung berapi,” papar Bob.
Jalan terang mulai terbuka ketika seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresinya. Pada awal berjualan, Bob bersama istrinya hanya menjual telur beberapa kilogram. Akhirnya dia tertarik mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Padahal saat itu telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang.
Ketika bisnis telur ayam terus berkembang Bob melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Kini Bob mempunyai PT Kem Foods (pabrik sosis dan daging). Bob juga kini memiliki usaha agrobisnis dengan sistem hidroponik di bawah PT Kem Farms. Pergaulan Bob dengan ekspatriat rupanya menjadi salah satu kunci sukses. Ekspatriat merupakan salah satu konsumen inti dari supermarketnya, Kem Chick. Daerah Kemang pun kini identik dengan Bob Sadino.
“Kalau saja saya terima bantuan kakak-kakak saya waktu itu, mungkin saya tidak bisa bicara seperti ini kepada Anda. Mungkin saja Kemstick tidak akan pernah ada,” ujar Bob.
Pengalaman hidup Bob yang panjang dan berliku menjadikan dirinya sebagai salah satu ikon entrepreneur Indonesia. Kemauan keras, tidak takut risiko, dan berani menjadi miskin merupakan hal-hal yang tidak dipisahkan dari resepnya dalam menjalani tantangan hidup. Menjadi seorang entrepreneur menurutnya harus bersentuhan langsung dengan realitas, tidak hanya berteori.
Karena itu, menurutnya, menjadi sarjana saja tidak cukup untuk melakukan berbagai hal karena dunia akademik tanpa praktik hanya membuat orang menjadi sekadar tahu dan belum beranjak pada taraf bisa. “Kita punya ratusan ribu sarjana yang menghidupi dirinya sendiri saja tidak mampu, apalagi menghidupi orang lain,” jelas Bob.
Bob membuat rumusan kesuksesan dengan membagi dalam empat hal yaitu tahu, bisa, terampil, dan ahli.
“Tahu” merupakan hal yang ada di dunia kampus, di sana banyak diajarkan berbagai hal namun tidak menjamin mereka bisa. Sedangkan “bisa” ada di dalam masyarakat. Mereka bisa melakukan sesuatu ketika terbiasa dengan mencoba berbagai hal walaupun awalnya tidak bisa sama sekali. Sedangkan “terampil” adalah perpaduan keduanya. Dalam hal ini orang bisa melakukan hal dengan kesalahan yang sangat sedikit. Sementara “ahli” menurut Bob tidak jauh berbeda dengan terampil. Namun, predikat “ahli” harus mendapatkan pengakuan dari orang lain, tidak hanya klaim pribadi.

Roti Bakar Eddy

Dulu “Terusir” kini “Mengusir”
Oleh Andi Wiranata

Jakarta adalah kota yang mengandung sifat “magnet” tersendiri bagi penduduk Indonesia, khususnya bagi kaum urban dari daerah dengan tujuan ingin mencari kehidupan lebih baik.
Ibu kota  tidak hanya menjanjikan “surga” untuk para pencari rezeki dengan banyak peluang meraup rezeki, namun  juga “neraka” bagi mereka yang gagal bertaruh hidup di kota metropolitan ini.

Biaya hidup yang tinggi dan persaingan yang berat tidak akan memberi ampun bagi pendatang yang tidak siap “lahir batin”. Mungkin, inilah yang terbersit di pikiran salah seorang pemuda kelahiran Solo, Jawa Tengah, bernama Eddy Supardi 15 tahun (pada saat itu) yang ingin mencari kehidupan lebih baik di Jakarta.

 Ia memutuskan untuk hijrah dari daerah Solo, Jawa Tengah, ke kota dimana banyak orang-orang di desanya mengadu nasib.

 Berbekal niat dan restu orangtua, akhirnya Ia pun menapakkan kakinya pertama kali di Jakarta tahun 1966. Kedatangan Eddy ke Jakarta boleh dibilang nekad, dengan bekal yang seadanya. Awalnya, Pak Eddy muda menjadi karyawan di warung roti bakar kaki lima. Pekerjaanya melayani dan membereskan barang dagangan. Ia juga pernah mencecap menjadi penjual koran. Saat itu, yang dipikirkannya hanyalah mencari uang untuk makan.
Kesabaran yang membuat Pak Eddy bertahan berjuang di Jakarta walaupun banyak kesusahan dan rintangan tidak membuat Pria yang kini berusia 61 tahun ini pulang kampung pada saat itu.

Bulan ke bulan Ia menerima gaji yang hanya cukup untuk biaya hidup, namun dengan manajemen keuangan yang sederhana. Manajemen keuangan yang sederhana namun bersahaja inilah yang menuntut Pak Eddy menjadi orang yang hemat. Ia menabung sisa uang dari gajinya, dengan harapan suatu saat kelak jika modalnya dirasa cukup akan membuat usaha sendiri.  Sebelum menemukan “harta karun” Roti Bakar, Pak Eddy mencoba berjualan lontong sayur dan bubur ayam di wilayah dekat Universitas Al-Azhar Indonesia, Blok-M, Jakarta Selatan.

Ia memboyong gerobaknya di pinggir jalan. Jadi sudah sering Pak Eddy berurusan dengan petugas keamanan dan ketertiban kota (Kamtib). “Dulu bapak sering diusir sama petugas kota,” ujar Mas Ariyadi anak ke-4 dari Pak Eddy yang kini meneruskan usaha roti bakar ayahnya di daerah blok-M tersebut kepada Bisnis Global,, Senin (24/12).. Keberadaan gerobak Pak Eddy dianggap menganggu warga sekitar karena pelanggannya yang lumayan ramai.
Gonta-ganti dagangan pun telah berkali-kali dilakoninya, sampai pada tahun 1971 ia mencoba dagangan roti bakar dengan bermodal uang perak (mata uang zaman dulu) yang sedikit di lokasi yang sama. 

“Belum lagi saat itu modal yang dikeluarkan bapak masih hitungan perak,” ujar Ari, sapaan akrab Ariyadi.

Pada saat itu, ia menilai di seputar komplek Universitas Al-Azhar Indonesia belum ada yang menjajakan roti bakar. Berbekal pengalamannya ketika menjadi karyawan usaha roti bakar milik orang lain, akhirnya Pak Eddy memutuskan mencoba usaha yang satu ini. “Bapak dagang roti di sini karena pada saat itu belum ada yang dagang roti bakar,” lanjut Ari.
“Sebetulnya, hasil bapak dari dagang itu hanya buat makan sehari-hari,” lanjut  Ari begitu panggilan sehari-harinya. Namun, karena kerja keras dan lingkungan yang mendukung, perlahan tapi pasti pembeli roti bakar gerobakanya terus bertambah.

Pundi-pundi rupiah pun mulai mengalir di tabungannya sehingga Pak Eddy mempunyai kesempatan yang besar untuk lebih mengembangkan usahanya. Banyak para pembeli yang menyebut roti bakar dagangannya dengan sebutan “Roti Bakar Eddy.” Padahal menurut penuturan Ari, awalnya usaha dagang ayahnya cuma buat survive keluarga.

Karena lokasi berjualan roti tersebut terletak di pinggir jalan, untuk yang kesekian kalinya Pak Eddy harus kembali berhadapan dengan Kamtib. Bukan kali pertama, Pak Eddy diusir oleh Kamtib karena dianggap menganggu ketertiban dan kenyamanan.
Saat brand roti Eddy mulai dikenal khalayak, tepatnya tahun 1980-an, 5 tahun kemudian usaha rotinya harus rela mengalami kerugian pendapatan. Saat itu, pemerintah mengeluarkan peraturan tidak boleh keluar malam setelah pukul 21.00 pasca terjadinya peristiwa kerusuhan yang terjadi di wilayah Blok M dan sekitarnya.

Kini, Roti Eddy sudah sukses dan mendapat tempat di hati para pembelinya. Jika ditanya roti bakar yang enak di Jakarta, mayoritas masyarakat sekitar kompak menyebut Roti Bakar Eddy. Melengkapi kisah suksesnya, tempat awal mula dirintisnya usaha ini, tepatnya di belakang Universitas Al-Azhar Indonesia Jakarta, kini sudah permanen. Pengunjung bisa menemukan dan menikmati khasnya roti Eddy setiap malam mulai pukul 18.00-02.30 untuk hari kerja dan pukul 18.00-03.00 untuk akhir pekan.

Kekonsistenan rasa dan kualitas roti bakar Eddy  membuat pembelinya setia berlangganan, bahkan sampai keturunan mereka juga. “Saya sering ngobrol sama beberapa anak dari pelanggan dulu yang sering beli roti bakar bapak,” lanjut Ari penuh semangat.
Sembilan warung roti bakar Eddy sudah menyebar ke wilayah Blok-M, Ciputat, Senayan, dan Mampang, di bawah manajemen Ari anak ke-4 Pak Eddy. Kemudian di Depok, Cibubur, dan Pondok Gede dikelola oleh Kakaknya yang bernama Risdiyanti dengan manajemen dan konsep yang berbeda.

Menjelang malam, gerobak putih bertuliskan Roti Bakar Eddy Blok M makin ramai dipenuhi pengunjung. Mereka rata-rata anak muda. Memesan roti sambil menikmati atmosfer malam Blok M. Penikmat roti bakar Eddy Blok M mulai ada seiring dengan didirikannya usaha kuliner ini oleh Eddy Supardi.

Ditemui di warung roti Eddy di wilayah Blok-M, Ari menyatakan bahwa lokasi sangat berpengaruh terhadap omzet. “Kita hanya memilih tempat operasi yang strategis dan ramai,” ujarnya. Selain mengedepankan pelayanan dan rasa, tempat strategis pula yang membuat beberapa selebritis hingga orang-orang besar ikut “nongkrong” di warung roti bakar yang selalu penuh pengunjung ini.

Patut diketahui, roti bakar Eddy memproduksi rotinya sendiri dan tidak memesan atau menyuplai dari pabrik atau kios roti tertentu. Alasanya, untuk menjaga kualitas produk. “Kami membuat roti sendiri, tidak menggunakan pengawet, jadi kalo udah tiga hari roti mulai keras,” lanjut Ari dengan percaya diri.

Bahan-bahan yang digunakan tidak jauh berbeda dengan roti-roti pada umumnya seperti tepung roti protein, tepung terigu, gula pasir, garam, susu bubuk, telur ayam, air, mentega dan susu evaporated tanpa pengawet. Kehegienisan juga menjadi alasan utama manajemen untuk menjaga kualitas roti.

Ciri khas dari roti bakar roti Eddy ini teletak pada ukuran rotinya yang  besar, keseimbangan manis meses dan gurih keju serta tekstur rotinya yang empuk sehingga memberikan sensasi yang spesial bagi yang menikmatinya. Keju yang menggunung dengan kandungan meses cokelat di dalamnya membuat roti bakar Eddy layaknya “gunung berapi” yang siap meledak di mulut penikmatnya.

Warung roti bakar Eddy yang dikelola oleh Ari mengusung konsep “kaki lima”. Selain untuk menjaga tradisi dan konsep awal yang dijalani oleh ayahnya, Ia mengungkapakan jika dibentuk seperti demikian akan lebih menampung banyak pelanggan mengingat banyaknya pelanggan roti Eddy di wilayah tersebut. Hal tersebut berbeda dengan enam cabang di bawah manajemen Risdiyanti yaitu di wilayah Depok, Cibubur, dan Pondok Gede yang mengusung konsep semi resto. 

“Saya ingin pelanggan dapat suasana yang nyaman, tenang  dengan harga yang murah,” terang Ibu tiga anak ini.

Di cabang Bintaro sektor 9, roti Eddy dilengkapi mushola, washtafel dan toilet, juga ada area bermain anak yang cukup luas. Rata-rata enam cabang di wilayah Depok, Cibubur dan Pondok Indah masih menyewa tempat berbeda dengan warung roti bakar Eddy Blok-M yang sudah permanen namun bongkar pasang. Hal ini tidak menjadi masalah bagi Risdiyanti anak ke-2 Pak Eddy, karena Ia berpendapat, “Alhamdulillah walaupun masih sewa, warungnya rame terus dan Alhamdulillah banyak pemasukan dan semuanya sudah dihitung.”

Roti bakar Eddy bukan hanya menawarkan roti bakar dengan meses dan keju, ada beberapa menu hasil inovasi pengelolanya diantaranya  Roti bakar standar (satu rasa), Roti bakar medium (dua rasa), Roti bakar corned, Roti bakar corned keju, V.S. (Keju+Coklat+Kacang+Susu), Kebo (Keju+Coklat+Pisang), Roti bakar SE (Telor+Corned), Roti bakar 2 tg (Keju+Corned+Telor), Roti bakar Burju (tabor keju) dan Pisang Bakar (Keju+Coklat+Susu).

Beberapa menu roti bakar yang menjadi favorit pengunjung adalah roti bakar keju dan roti bakar 2TG (telor, cornet daging sapi). Di setiap warung bakar roti Eddy tidak hanya menjajakan roti bakar saja bahkan banyak unit dagang lain di bawah manajemen roti bakar Eddy diantaranya Siomay, Batagor, Sate Padang, Pempek Palembang, Bubur Ayam, Mie keju, Nasi Uduk (ayam dan bebek  goreng dan bakar), Nasi Goreng, Aneka Juice, dan Baso dengan harga yang berbeda.

Dalam satu hari kerja, roti bakar Eddy rata-rata habis hingga 500-600 porsi pada hari biasa dan 750-800 porsi pada hari libur (weekend) dengan menu berbeda dan tentunya dengan harga yang berbeda pula. Jika dikalkulasikan dari satu cabang beromzet Rp. 5 juta hanya dari roti bakar keju saja, belum ditambah menu roti bakar lain dengan harga yang berbeda dan ditambah unit-unit dagang lain seperti bubur ayam, baso, sate padang, siomay dan batagor, nasi goreng, Mie keju, dan aneka jus dan minuman.

Omzet roti bakar Eddy satu cabang diperkirakan mencapai angka milyaran dalam satu bulan. Omzet yang sangat fantastis bila mengingat pada mulanya hanya berawal dari satu gerobak roti bakar nomaden. Kini, omzet seluruh cabang roti Eddy sudah bernilai triliun-an. Sang perintis, Pak Eddy, kini menikmati masa emasnya. Perjuangan dan kerja kerasnya tempo dulu membekas dalam ingatan anak, cucu, serta para pelanggannya.

Pendapatan yang besar, cabang yang tersebar di banyak wilayah di Jakarta, ditambah pembeli setia yang terus berlangganan, tentunya diciptakan oleh tim yang baik dan solid. Saat ditanya tentang gaya manajemen seperti apa yang diberlakukan antara owner dan karyawan, Ari menerangkan bahwa Pak Eddy dan keluarga menggunakan manajemen kekeluargaan.
Jadi tidak ada batasan, namun  tetap menjaga kesopanan dan saling menghargai. “Semua orang bisa bicara tentang roti bakar Eddy dan complain dari customer. Ada karyawan sekarang sudah memulai usaha sendiri usaha roti bakar, kita bantu sampai dia bisa mandiri,” ucap Ari.



Begitupun sama halnya yang diungkapkan oleh kakaknya, “saya ingin usaha roti bakar Eddy ini berkah untuk semua karyawan, pelanggan dan termasuk saya sekeluarga.” Disinggung mengenai bagaimana manajemen karyawan, Risdiyanti mengungkapkan bahwa karyawan adalah aset perusahaan yang musti dirawat dan dimaksimalkan kinerjanya.

Banyak karyawan yang sudah bekerja selama puluhan tahun, bahkan 25 tahun, yaitu mulai dari zaman Pak Eddy yang memimpin sampai kini beralih generasi kepada anak-anaknya. Rata-rata karyawannya berasal dari Solo daerah asal Pak Eddy. Mungkin Ia ingin mengajak orang-orang sekitar merasakan kebahagian yang kini sudah dicapai. Roti bakar Eddy ini menerima kerjasama dari berbagai pihak dalam hal tempat, manajemen akan mensurvei terlebih dahulu apakah tempat yang ditawarkan sesuai kriteria atau tidak. Seperti strategis, luas dan ramai.

Namun roti bakar Eddy nampaknya memiliki prinsip bisnis tersendiri tidak menerima bentuk kerjasama dalam bentuk franchise karena faktor kesiapan dan tanggungjawab. “Yang namannya mempertahankan lebih sulit. Semakin besar bisnis roti bakar ini semakin besar pula tanggungjawab kita di hadapan Allah,” ujar Risdiyanti ketika ditemui di roti bakar Eddy cabang bintaro sektor 9 (Rabu, 27/12/12).

Tidak ada pelayanan tanpa complain, sesuatu yang pasti ditemukan pada setiap kegiatan bisnis. Begitu pula roti bakar Eddy juga pernah mendapat complain dari pelanggan terkait lamanya pesanan. Sebagai tanggapan dari manajemen, biasanya mereka memberikan minuman terlebih dahulu dan menyediakan hiburan supaya customer dapat menunggu dengan tenang. 

“Setiap orang kan beda-beda yah, ada yang 1 menit lama, ada yang 30 menit lama, tapi kita beri minum dan hiburan dulu supaya dapat menunggu pesanan yang sedang diproses. Karena kita kan langsung masak, bikin di tempat jadi butuh waktu,” terang Risdiyanti dengan tenang.

Persaingan bisnis roti bakar di Jakarta terbilang cukup sengit. Banyaknya usaha roti bakar menciptakan persaingan tersendiri. Ada yang sportif ada pula yang tidak. Roti bakar Eddy selalu mengedepankan koreksi diri sendiri daripada harus terpancing strategi pesaing yang unfair (menjelek-jelekan) dan ikut menjelek-jelekan. “Jangan nyalahin orang, lebih baik koreksi aja diri kita,” lanjut Risdiyanti.

Semua bentuk kegiatan bisnis roti bakar ini sangat menjunjung nilai-nilai saling menguntungkan dan menomorsatukan kepuasan konsumen. Dengan kontrol  kualitas yang terus-menerus dilakukan oleh Pak Eddy sendiri beserta anaknya membuat roti bakar ini masih eksis selama empat dekade lebih.

Manajemen berharap pada tahun 2013 bisnis ini akan berkembang dengan lebih baik dan besar lagi. “customer loyal, semakin ramai, semakin berkah, buka cabang baru dan karyawan senang,” terang Risdiyanti dengan semangat.

Rahasia dan tradisi yang selalu diamalkan oleh roti bakar Eddy peningkatan servis terus-menerus, menjaga kualitas yang baik, menciptakan kenyamanan bagi customer, kondisi tempat yang luas dan bersih serta lokasi yang strategis bagi customer.

Pak Eddy adalah cermin pekerja keras, pantang menyerah dan bersahaja. Roti bakar Eddy adalah kisah sukses sebuah usaha yang mengedepankan sisi kemanusiaan melalui pelayanan yang memuaskan dan kualitas yang terjaga. Kisah lika-liku perjuangan bisnis Pak Eddy dengan roti bakarnya dapat kita jadikan inspirasi bahwa kemerdekaan hidup bukan hanya milik orang berdarah biru atau orang berlimpah harta. Semua keajaiban hidup hanya dapat diraih oleh orang yang bersungguh-sungguh.
 
 
Majalah Bisnis Global Edisi  Februaru 2013